Berita Benih

Palembang, Tanah Awal Benih Sawit Indonesia yang Nyaris Terlupakan

Palembang, BENIH SAWIT INDONESIA — Sejarah sawit Indonesia selama ini lebih banyak menempatkan Tanah Deli sebagai simbol awal kejayaan perkebunan sawit nasional. Namun di balik dominasi narasi tersebut, tersimpan fakta penting bahwa Palembang dan Sumatera Selatan pernah menjadi wilayah awal tempat benih sawit diuji dan dikembangkan di Indonesia.

Jejak sejarah itu diungkap Ketua APINDO Sumatera Selatan sekaligus Chairman Founder WISPO (Worker Initiatives for Sustainable Palm Oil), Sumarjono Saragih. Menurutnya, Sumatera Selatan memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan benih sawit nasional yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Di masa awal, benih itu berakar dan tumbuh di Palembang. Tanah uji coba benih yang nyaris terlupa. Jejak itu ada dan nyata,” ujarnya.

Kisah benih sawit Indonesia sendiri bermula pada 1848 ketika seorang Belanda, Dr. Pryce, membawa empat benih kelapa sawit dari Afrika Barat ke Kebun Raya Bogor. Awalnya tanaman tersebut hanya menjadi koleksi botani, namun kemudian berkembang menjadi cikal bakal industri sawit Indonesia yang kini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.

Menurut Sumarjono, catatan sejarah menunjukkan benih sawit dari Bogor kemudian disebarkan ke sejumlah wilayah Hindia Belanda untuk diuji coba. Salah satu lokasi terpenting berada di Karesidenan Palembang. Berdasarkan catatan Van Heurn tahun 1948, sekitar 1858 benih sawit mulai ditanam di wilayah Palembang pada lahan seluas 1,2 hektare. Hasil percobaan itu dinilai sangat baik. Tanaman sawit mulai berbuah pada tahun keempat dengan tinggi batang sekitar 1,5 meter, lebih cepat dibanding pertumbuhan di habitat asalnya di Afrika Barat.

Percobaan pengembangan benih tersebut kemudian meluas dari Palembang menuju Muara Enim hingga Ulu Musi pada periode 1859–1864. Fakta ini memperlihatkan bahwa Sumatera Selatan memiliki peran penting dalam fase awal adaptasi dan pengembangan benih sawit di Indonesia.

Meski demikian, Tanah Deli akhirnya berkembang lebih dominan setelah didukung teknologi dan kebijakan kolonial yang menjadikannya pusat perkebunan sawit komersial sejak 1911 di Sei Liput dan Tanah Raja, wilayah Sumatera Utara dan Aceh saat ini.

Pohon sawit mungkin berdaun lebat di Tanah Deli. Tapi ada akar kuat di tanah Palembang,” kata Sumarjono. Perjalanan panjang tersebut kini berlanjut dengan lahirnya berbagai inovasi benih unggul sawit dari Sumatera Selatan. Provinsi ini tercatat menjadi salah satu daerah penghasil benih unggul nasional seperti DxP Sriwijaya dan DxP Tania Selatan.

Benih DxP Sriwijaya dikembangkan PT Bina Sawit Makmur yang merupakan bagian dari POSCO International melalui riset para peneliti Indonesia, termasuk kontribusi Dwi Asmono. Sementara DxP Tania Selatan diproduksi Wilmar Plantation dan telah dikenal luas di industri sawit nasional.

Tak hanya menjadi pusat pengembangan benih, Sumatera Selatan hingga kini juga tetap menjadi salah satu kekuatan utama sawit nasional. Data 2024 mencatat luas perkebunan sawit di provinsi tersebut mencapai sekitar 1,5 juta hektare dari total 16,4 juta hektare sawit Indonesia.

Menurut Sumarjono, sawit kini telah menjadi sumber penghidupan jutaan masyarakat, mulai dari petani, pekerja kebun, buruh tani hingga pelaku usaha informal. “Tak berlebihan menyatakan isi dompet wong kito ada paparan aroma sawit,” ujarnya.

Di sisi lain, Sumatera Selatan juga terus mendorong praktik sawit berkelanjutan. Pada 2020, Sumarjono bersama Bupati Musi Banyuasin saat itu, Dodi Reza Alex, mendeklarasikan MSPOI (Muba Sustainable Palm Oil Initiatives) yang memperkenalkan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi petani sawit.

Gerakan itu kemudian diperkuat melalui GEBIE (Gender Equality in Business Initiatives Enthusiast) pada 2025 yang berfokus pada perlindungan pekerja perempuan dan dipimpin anggota DPD RI asal Sumatera Selatan, Ratu Teny Leriva.

Bagi Sumarjono, momentum 115 tahun sawit Indonesia menjadi waktu yang tepat untuk kembali mengingat sejarah awal benih sawit di Palembang sebagai bagian penting perjalanan industri sawit nasional.

Melalui industri sawit, Palembang dan Sumatera Selatan turut mewujudkan Asta Cita dan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *