Berita Terbaru

Limbah Udang Diubah Menjadi Pupuk Organik Kelapa Sawit

BENIH SAWIT INDONESIA – Cangkang hasil pergantian kulit udang atau dikenal limbah molting dan sedimen lumpur hasil sisa pakan udang selama ini menjadi ancaman ekologis bagi perairan di kawasan tambak Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung. Kini ancaman ekologi itu berhasil diubah menjadi peluang ekonomi baru oleh tim peneliti dan dosen dari IPB University. 

Tim peneliti yang diketuai Prof Tridoyo Kusumastanto meluncurkan inovasi pemanfaatan limbah tambak udang untuk dikonversi menjadi pupuk organik bernilai ekonomi tinggi yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi perkebunan kelapa sawit. PT Shrimpi resmi ditunjuk sebagai mitra sekaligus pilot project pertama dari hilirisasi riset ini.

Ketua Program Studi Ekonomi Kelautan Tropika Sekolah Pascasarjana IPB University yang juga menjadi bagian tim peneliti, Dr Kastana Sapanli menyatakan bahwa inovasi ini menerapkan sistem integrated multi-trophic aquaculture (IMTA). Sebuah pendekatan budi daya terintegrasi yang memanfaatkan limbah dari satu organisme menjadi sumber daya bagi organisme lainnya.

“Selama ini, limbah molting udang dari pembersihan kolam setiap 2–3 hari sekali hanya dibuang dan mencemari perairan pesisir. Melalui riset ini, kami mengumpulkan cangkang udang tersebut dari saluran pembuangan untuk diolah menjadi kitin, lalu dikonversi menjadi kitosan. Tidak hanya cangkang, sedimen lumpur hasil sisa pakan dan kotoran udang yang disaring melalui rotary drum filter juga kami olah menjadi bahan baku pupuk organik,” jelas Dr Kastana Sapanli.

Dr Kastana menjamin pupuk organik ini 100 persen aman secara biologis karena melalui proses produksi kimiawi yang intensif. Proses produksi pupuk telah melalui beragam tahapan mulai dari pencucian dan pengeringan cangkang, demineralisasi, deproteinasi, hingga deasetilasi menjadi kitosan. Melalui proses kimia intensif ini secara teoritis dapat mengurangi atau menghilangkan kontaminan biologis.

Sebelum diaplikasikan pada kelapa sawit, tim peneliti IPB University telah melakukan uji coba awal pada tanaman sayuran. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan jauh lebih baik dibandingkan pupuk komersial lainnya. Namun, untuk skala komersial, tim riset sengaja membidik sektor kelapa sawit.

“Alasannya adalah Bangka memiliki areal perkebunan sawit yang luas sehingga menjadi pasar potensial. Sedimen limbah tambak diarahkan menjadi pupuk organik kelapa sawit sebagai nilai tambah ekonomi,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, tim peneliti akan melibatkan masyarakat lokal dalam proses produksi pupuk, diawali dengan pelatihan untuk pemilik tambak di Bangka Tengah. Tahapan riset tahun kedua akan melibatkan petani yang memiliki kebun sawit dengan melakukan pelatihan dan pendampingan untuk aplikasi pupuk di perkebunan sawit. 

“Berdasarkan roadmap penelitian, peluncuran komersial pupuk organik ditargetkan pada akhir 2027 setelah proses sertifikasi dan hilirisasi produk selesai, Tahapan yang dilakukan agar sampai pada tahap komersialisasi adalah uji laboratorium pupuk, uji lapangan, dan sertifikasi produk,” ungkap Dr Kastana.

Sumber: ipb.ac.id

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *