Berita Benih

BGA Dorong Petani Sawit Tinggalkan Pola Lama, Fokus pada Bibit Unggul dan Efisiensi Biaya

Salah satu kelompok peserta pelatihan petani sawit Kelas Teknis Budidaya dari Kab. Kotim, saat melakukan studi banding ke kebun PT BGA (Region 3 Pundu).(dok/AKPY)

Palangka Raya, BENIH SAWIT INDONESIA — Upaya peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat tidak cukup hanya dengan menambah luas lahan, tetapi harus dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) petani. Hal itu menjadi salah satu komitmen PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) melalui studi banding lapangan yang diikuti sekitar 149 petani sawit swadaya asal Kabupaten Kotawaringin Timur.

Studi banding tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan pelatihan petani sawit program pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026, yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), dengan dukungan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan Ditjen Perkebunan selaku pemberi rekomendasi (peserta).

Region Head 3 Pundu PT BGA, Lavin D. Saputra, mengatakan peningkatan kapasitas petani merupakan bagian dari misi perusahaan untuk membantu menyejahterakan seluruh pemangku kepentingan, khususnya petani mitra dan petani swadaya.

“Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), BGA berupaya mendorong peningkatan kualitas SDM petani agar mampu menerapkan pola budidaya yang lebih tepat dan efisien. Dengan SDM yang lebih baik, produktivitas kebun rakyat diyakini dapat meningkat secara signifikan,” ujarnya, saat ditemui di sela-sela kegiatan studi banding petani sawit asal Kotawaringin Timur (Kotim), pada Senin (22 Juni 2026).

Dalam kunjungannya peserta pelatihan kelas budidaya, Lavin menekankan pentingnya pemahaman teknis yang dapat langsung diterapkan petani di lapangan. Salah satu fokus utama adalah pembibitan, terutama kemampuan mengenali bibit unggul yang sesuai dengan karakteristik lahan.

“Bibit yang berkualitas akan menjadi fondasi pohon yang sehat dan produktif. Ini menjadi langkah awal yang sangat menentukan hasil kebun ke depan,” ujarnya.

Selain pembibitan, materi pelatihan juga menyoroti pengelolaan tanaman belum menghasilkan (TBM), terutama perubahan paradigma dalam perawatan kebun. Selama ini, banyak petani masih menerapkan konsep clean weeding atau membersihkan gulma secara total.

Padahal, menurut Lavin, pendekatan tersebut tidak selalu tepat, terutama di wilayah Kotawaringin Timur yang banyak memiliki lahan dengan karakter marginal seperti pasir dan kaolin. Kondisi itu membutuhkan tambahan bahan organik untuk menjaga kesuburan tanah dan efisiensi pemupukan.

Ia menjelaskan, penggunaan tanaman penutup tanah (legume cover crop/LCC) atau kacangan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kandungan organik tanah sekaligus menekan pertumbuhan gulma.

“Dengan menumbuhkan LCC, petani bisa mengurangi biaya pupuk anorganik dan biaya pengendalian gulma. Ini lebih efisien dan lebih ramah untuk kesehatan tanah,” katanya.

Memberi pengalaman praktis bagi petani

Lavin juga menilai pembelajaran langsung di lapangan sangat penting karena memberi pengalaman praktis bagi petani. Melalui studi banding, peserta dapat melihat langsung praktik terbaik budidaya dan berdiskusi dengan asisten maupun manajer kebun mengenai teknik peningkatan produksi.

Ia mengakui, rendahnya produktivitas kebun rakyat selama ini dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari pemilihan bibit yang tidak sesuai, pengelolaan lahan marginal yang belum optimal, hingga pola perawatan tanaman yang masih konvensional.

Sebab itu, PT BGA mendorong petani mulai menerapkan langkah-langkah sederhana namun berdampak besar, seperti mengurangi penyemprotan herbisida secara berlebihan, mengganti sebagian dengan metode slashing hijauan, hingga melakukan pemupukan berdasarkan gejala defisiensi hara.

“Pendekatan tersebut dapat membantu petani menekan biaya operasional tanpa mengorbankan produktivitas. Pemupukan itu harus prioritas. Kalau tanaman menunjukkan gejala kekurangan hara tertentu, itu yang didahulukan. Jangan semua dipukul rata karena belum tentu efektif terserap tanaman,” jelasnya.

Lebih jauh, ia berharap kegiatan studi banding tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang antara petani dan perusahaan.

Dengan komunikasi yang terus terjalin, petani diharapkan tetap memiliki akses konsultasi teknis setelah kegiatan berakhir.

“Harapan kami, setelah kualitas SDM meningkat, produktivitas sawit rakyat juga naik. Kalau produktivitas meningkat, pendapatan petani juga lebih baik dan kesejahteraan keluarganya ikut meningkat,” pungkas Lavin.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *