Berita Terbaru

Sambut Musim Festival, Impor Sawit India Melonjak 50% Jadi 730 Ribu Ton pada Juli 2026

NEW DELHI, BENIH SAWIT INDONESIA — Lonjakan permintaan minyak nabati mulai melanda India menjelang dimulainya rangkaian musim festival paruh kedua tahun ini. Pada Juli 2026, impor minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) negara importir minyak nabati terbesar di dunia tersebut melonjak hingga hampir 50% dibandingkan bulan sebelumnya, menyentuh angka sekitar 730.965 ton.

Capaian ini menjadi angka impor sawit tertinggi bagi India dalam lima bulan terakhir. Di saat yang sama, total impor minyak nabati India secara keseluruhan naik 33,3% menjadi 1,48 juta ton, rekor tertinggi sejak September 2025.

Pelaku industri pengolahan minyak di India memilih untuk menambah pasokan (stockpiling) lebih awal untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi pangan pada perayaan besar seperti Ganesh Chaturthi, Dussehra, hingga Diwali yang berlangsung sepanjang Agustus hingga November. Reuters bahkan memproyeksikan pembelian minyak sawit India pada Agustus 2026 masih akan bertahan di atas level 700 ribu ton.

Persaingan Ketat Minyak Kedelai dan Dampak Bagi Indonesia

Skala pasar India memiliki arti sangat vital bagi ekspor kelapa sawit Indonesia. Berdasarkan data GAPKI, India merupakan pasar ekspor sawit terbesar kedua bagi Indonesia setelah China, dengan volume mencapai 3,97 juta ton pada 2025.

Namun, peningkatan impor di India tidak serta-merta hanya dinikmati oleh minyak sawit. Data Juli 2026 mencatat adanya kenaikan pada minyak nabati pesaing:

  • Minyak Kedelai: Impor melonjak 31% menjadi 498.881 ton (tertinggi dalam 7 bulan).
  • Minyak Bunga Matahari: Impor naik 4% menjadi 251.639 ton.

Tren pergeseran ini semakin tajam pada Agustus 2026, di mana impor minyak kedelai India diproyeksikan menyentuh rekor 620 ribu ton karena harganya yang kian kompetitif. Menyempitnya selisih (discount) harga minyak kedelai terhadap minyak sawit hingga tinggal sekitar US$50 per ton mendorong importir India mengalihkan sebagian porsi pembelian mereka dari CPO ke minyak kedelai.

Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi industri sawit tanah air. Meskipun musim festival di India selalu mendongkrak total volume impor minyak nabati, besarnya daya serap pasar tidak otomatis menjamin penjualan CPO Indonesia. Faktor utama yang menentukan pada akhirnya adalah sejauh mana harga CPO Indonesia tetap kompetitif dan bernilai ekonomis di mata pembeli global.

Sumber: iposs.co.id

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *