Berita Terbaru

Dampak Kebijakan Baru terhadap Pasokan, Permintaan, dan Biaya

Kunming, BENIH SAWIT INDONESIA – Industri kelapa sawit Indonesia memasuki babak baru pada 2026, ditandai oleh perlambatan pertumbuhan produksi, lonjakan konsumsi domestik akibat mandat biodiesel B50, serta tekanan biaya yang meningkat di sisi hulu maupun hilir.

Hal ini disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Lolita Bangun, dalam paparan bertajuk “Indonesia’s Palm Oil Market Outlook: Policy-Driven Supply-Demand Realignment and a New Cost Paradigm” pada acara Global Oleochem Summit 2026 di Kunming, China.

Kinerja 2025: Produksi dan Ekspor Tumbuh Solid

Sepanjang 2025, produksi minyak sawit Indonesia tumbuh 7,5%, dari 48,16 juta ton (2024) menjadi 51,6 juta ton, didorong cuaca yang mendukung, harga tinggi, dan pemeliharaan kebun yang baik. Volume ekspor turut melonjak 9,5% menjadi 32,3 juta ton senilai US$35,8 miliar, ditopang daya saing dan harga yang relatif stabil.

Konsumsi domestik naik 3,6% menjadi 24,7 juta ton, terutama disumbang oleh konsumsi biodiesel yang melonjak 10,9% menjadi 12,7 juta ton.

Hal ini mengonfirmasi pergeseran struktural dari orientasi ekspor ke domestik, dan dari pangan ke energi. Sejak 2023, konsumsi biodiesel bahkan telah melampaui konsumsi pangan domestik.

Proyeksi 2026: Produksi Stagnan, Konsumsi Domestik Melonjak

Pada 2026, pertumbuhan produksi diperkirakan tertahan di bawah 2%. Faktor pendorong seperti mulai panennya area replanting berhadapan dengan tantangan El Niño yang muncul sejak Mei 2026, penurunan kualitas agronomis, serta program peremajaan kebun yang masih berjalan.

Yang paling signifikan, implementasi mandat biodiesel B50 mulai Juli 2026 diperkirakan menambah kebutuhan CPO domestik sebesar 1,9 juta ton dibanding alokasi B40 tahun 2025 yang sebesar 12,7 juta ton. Dengan total kebutuhan CPO untuk B50 mencapai sekitar 14,6 juta ton, angka yang dinilai masih mencukupi, namun membawa risiko terhadap volume ekspor.

Akibatnya, volume ekspor diproyeksikan menurun cukup signifikan akibat kombinasi lonjakan konsumsi domestik dan stagnasi produksi. Harga CPO pada semester pertama 2026 tercatat rata-rata US$1.432/MT dan diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.

Tren Ekspor ke Negara Tujuan Utama

China tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar dan menunjukkan tren pertumbuhan, bahkan ketika ekspor ke India menurun. Pada 2025, ekspor ke China tumbuh 12% menjadi hampir 6 juta ton, sementara ekspor ke India turun 18%. Ekspor ke Uni Eropa dan Amerika Serikat juga masing-masing menurun 3% dan 1% dibanding 2024.

Sebaliknya, ekspor ke pasar non-tradisional justru meningkat tajam, dimana Malaysia naik 52%, Bangladesh 48%, Afrika 31%, dan Rusia 17%. China mengimpor sawit Indonesia terutama dalam bentuk produk hilir, yakni oleokimia dan minyak sawit olahan, dan diperkirakan volume impor China pada 2026 setidaknya setara dengan 2025.

Tekanan Biaya dari Geopolitik Timur Tengah

Ketegangan geopolitik antara Iran dan AS-Israel turut membebani rantai pasok sawit Indonesia. Di sisi hulu, harga pupuk naik hingga 30% sejak Maret 2026 di tengah pembatasan ekspor pupuk oleh China, sementara harga BBM industri melonjak dari Rp15.000 menjadi Rp29.000 per liter.

Akibatnya, terjadi kenaikan biaya operasional perkebunan secara menyeluruh, mulai dari transportasi Tandan Buah Segar (TBS) hingga tuntutan upah minimum yang lebih tinggi.

Di sisi hilir, rute pelayaran ke Eropa kini harus memutar melalui Afrika alih-alih melintasi Terusan Suez, sementara premi asuransi juga naik akibat risiko keamanan di jalur perdagangan internasional.

Secara keseluruhan, biaya logistik dan asuransi tambahan diperkirakan meningkat sekitar 50% dari baseline. Ekspor ke Timur Tengah dan Mesir turut terganggu, masing-masing mencatat volume 1,8 juta ton dan 1,2 juta ton pada 2025.

Kebijakan Ekspor dan Skema DSI

Pemerintah Indonesia menerapkan sejumlah instrumen kebijakan untuk mendukung program B50 dan memperkuat cadangan devisa, di antaranya pungutan ekspor CPO sebesar 12,5% dan produk olahan 4,75–9,5%, kewajiban penyimpanan devisa hasil ekspor senilai ≥US$250 ribu dalam rupiah selama satu tahun, serta perizinan baru untuk ekspor produk samping seperti POME dan UCO.

Selain itu, Indonesia memperkenalkan kerangka tata kelola baru untuk ekspor komoditas strategis (batu bara, CPO, dan ferroalloy) melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Skema ini berjalan dalam dua fase: fase transisi (1 Juni–31 Desember 2026), di mana perusahaan tetap bertransaksi langsung dengan pembeli asing namun wajib melaporkan transaksi ke DSI; dan fase implementasi penuh mulai 1 Januari 2027, di mana seluruh kontrak, transaksi, perizinan, pungutan, dan penerimaan devisa akan ditangani sepenuhnya oleh DSI.

Tantangan dan Arah Industri Oleokimia

Industri oleokimia nasional menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari isu keberlanjutan lingkungan dan kepatuhan RSPO, tekanan regulasi Uni Eropa dan kampanye anti-sawit, kenaikan konsumsi domestik akibat mandat B50, volatilitas harga CPO, hingga persaingan dari Malaysia dan India.

Ke depan, industri diarahkan menuju produksi bernilai tambah lebih tinggi melalui integrasi ke bahan kimia khusus, penguatan sertifikasi RSPO/ISPO/ESG, serta inovasi produk hijau seperti bioplastik, bio-pelumas, dan surfaktan terbarukan.

Sumber: gapki.id

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *