Jakarta, BENIH SAWIT INDONESIA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan implementasi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan campuran biodiesel berbasis minyak sawit (B50) sejak 1 Juli 2026.
Menanggapi hal ini, Vice Chairman Market Development Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, mengungkapkan bahwa B50 memang telah dicanangkan sejak beberapa tahun lalu oleh pemerintah dan akan dimulai pada Juli 2026.
Hal ini berarti, semua produsen kendaraan bermesin diesel harus siap menggunakan B50. Meski begitu, dia menekankan yang paling penting adalah distribusi dari B50 harus merata di seluruh Indonesia.
“Supaya merata di seluruh Indonesia, jangan cuma ada di kota-kota besar. Contohnya Pertadex, di kota kecil tidak ada. Mobil yang harus pakai Euro 4 atau Pertadex di kota besar doang,” kata Jongkie di sela-sela konferensi pers GIIAS 2026 di Jakarta, Senin (13/7).
Adapun Jongkie menekankan ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam penerapan B50. Pertama, memberikan waktu yang cukup untuk produsen agar mempersiapkan produknya. Kedua, distribusi bahan bakar diharuskan siap merata di seluruh Indonesia.
“Apakah Pertamina yang bertanggung jawab? Silakan. Kita tahu kita mau berhemat. Kita mau pakai B50 supaya subsidi BBM-nya tidak terlalu tinggi. Tapi ya itu tadi, tidak 100 persen dilimpahkan ke produsen otomotif dong,” ungkapnya.
Meski begitu, ia juga meminta agar industri kelapa sawit tetap diperhatikan. Tujuannya agar pasokan tetap terjaga dan tak adanya dampak seperti kelebihan stok.
“Kita harus ditopang supaya jangan sampai kelebihan stok, sawitnya mau diapain,” tukasnya.
Sumber: jawapos.com

