Ancaman Defisit Pasokan 27 Juta Ton, GAPKI Tekan Pentingnya Peningkatan Yield dan Penguatan Hulu Sawit
JAKARTA, BENIH SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperingatkan potensi ancaman defisit pasokan minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) hingga 27 juta metrik ton (MT) di masa depan jika pertumbuhan produksi nasional stagnan di tengah moratorium ekspansi lahan. Penguatan produktivitas hulu, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), hingga inovasi teknologi menjadi kunci utama agar industri sawit mampu menopang kebutuhan domestik dan ekspor.
Ketua Bidang Komunikasi GAPKI, Bandung Sahari, menegaskan bahwa posisi Indonesia sangat krusial dalam peta energi dan pangan dunia. Indonesia menyumbang sekitar 49 juta MT atau 58% dari total pasokan minyak sawit global (85 juta MT), serta menyumbang 22% dari total pasokan minyak nabati dunia.
"Sehebat apa pun inovasi di sektor hilir, semuanya akan kehilangan makna jika tidak memiliki pasokan bahan baku yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tersebut," tegas Bandung dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Poin-poin utama tantangan pasokan, target produktivitas, serta pilar transformasi hulu-hilir meliputi:
- Target Produktivitas 5 Ton per Hektare: Sejak diberlakukannya moratorium perluasan lahan swasta, laju ekspansi area perkebunan menurun drastis. Untuk mencegah krisis pasokan tanpa membuka lahan baru, yield atau produktivitas CPO nasional wajib ditingkatkan hingga 5 MT per hektare per tahun.
- Pengendalian Alih Fungsi Lahan & Agrikultur Maritim: GAPKI mendorong perlindungan ketat terhadap lahan-lahan produktif agar tidak tergerus alih fungsi non-pertanian, disertai eksplorasi pengembangan agrikultur maritim guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
- Penguatan Kapasitas Petani & SDM: Peningkatan kualitas pusat pendidikan, keahlian agrikultur, hingga kelembagaan kewirausahaan petani swadaya menjadi fondasi utama dalam meningkatkan efisiensi operasional di tingkat tapak.
- Integrasi Kebijakan Hulu-Hilir: Diperlukan konektivitas utuh antara sektor pertanian, manufaktur, dan jasa, serta pemerataan investasi yang tidak hanya berfokus pada industri hilir, melainkan juga memperkuat kepastian pasokan bahan baku di hulu.
Melalui adopsi teknologi tepat guna dan penguatan produktivitas hulu berbasis prinsip keberlanjutan, industri kelapa sawit nasional diharapkan tetap menjadi pilar utama transformasi ekonomi menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
Sumber: antaranews.com


