Netcix cuts out the chill with an integrated personal trainer on running.
G20 Amerika Serikat: Indonesia Suarakan Hak Berdaulat Transisi Energi dan Keunggulan B50
Texas, BENIH SAWIT INDONESIA - Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang mengancam jalur distribusi dan harga minyak dunia, Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pandangan strategis tersebut disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot pada ajang G20 Energy Abundance Ministerial Meeting di Houston, Texas, Amerika Serikat (14–16 September 2026).
Dalam forum yang digelar di bawah Presidensi G20 Amerika Serikat tersebut, Yuliot menekankan pentingnya hak berdaulat setiap negara untuk menentukan jalur transisi energinya sesuai dengan kondisi lokal dan kemampuan nasional.
"Indonesia mendukung hak berdaulat setiap negara untuk menentukan jalur energinya berdasarkan kondisi nasionalnya. Kami terus memperkuat ketahanan energi nasional dengan tetap mendorong transisi energi yang berkeadilan menuju Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat," tegas Yuliot dalam keterangan resminya, Kamis (18/9/2026).
Strategi Hibrida: Genjot Migas Hulu dan Pelopor B50 Dunia
Saat ini, konsumsi BBM Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari (bph), sedangkan produksi domestik berada di kisaran 600 ribu bph. Untuk memangkas jurang impor tersebut, pemerintah menyiapkan strategi komprehensif dari sektor fosil hingga bahan bakar nabati:
Target Produksi Minyak 1 Juta Barel: Pemerintah menargetkan laju produksi mencapai 1 juta bph dan membuka peluang investasi di 118 Wilayah Kerja (WK) migas melalui skema insentif fiskal yang kompetitif.
Pelopor Program B50 Dunia: Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mengimplementasikan campuran bahan bakar nabati 50% pada solar (B50). Program ini diproyeksikan mensubstitusi impor solar hingga 310 ribu bph, menghemat devisa hampir USD 10 miliar per tahun, serta menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja.
Lompatan Listrik Hijau dan Pendekatan Clean Cooking
Menghadapi pertumbuhan kebutuhan listrik nasional sebesar 5,3% per tahun, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 Gigawatt (GW), di mana 76% di antaranya bersumber dari energi terbarukan dengan kebutuhan investasi mencapai USD 180 miliar.
Pemerintah juga mendorong akselerasi 100 GWp Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) guna menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di berbagai wilayah.
Terkait isu clean cooking (akses memasak bersih), Indonesia menegaskan bahwa solusinya tidak boleh diseragamkan (no one-size-fits-all). Kebijakan harus netral teknologi, terjangkau, dan didukung pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik serta prioritas lokal masing-masing negara.
Sumber: idxchannel.com


