Benih Sawit Indonesia Berita Terkini Berita Terbaru Implementasi B50 Berpotensi Dongkrak Harga CPO dan TBS Petani
Berita Terbaru

Implementasi B50 Berpotensi Dongkrak Harga CPO dan TBS Petani

Jakarta, BENIH SAWIT INDONESIA – Rencana implementasi biodiesel B50 dinilai berpotensi memberikan dampak positif terhadap harga minyak sawit mentah (CPO) maupun harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Namun, manfaat tersebut hanya akan optimal apabila pemerintah tidak kembali menaikkan pungutan ekspor (PE) CPO untuk membiayai program biodiesel.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Eddy Martono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, yang menilai pengurangan volume ekspor akibat implementasi B50 justru berpotensi meningkatkan harga minyak nabati dunia, termasuk minyak sawit.

B50 Berpotensi Mendorong Kenaikan Harga CPO dan TBS

Sebelumnya, Serikat Petani Kelapa Sawit menyampaikan kekhawatiran bahwa implementasi B50 dapat menekan harga TBS petani. Kekhawatiran tersebut muncul setelah pemerintah menaikkan tarif pungutan ekspor CPO menjadi 12,5%.

SPKS memperkirakan program B50 dapat menghasilkan manfaat ekonomi hingga Rp24,68 triliun. Namun di sisi lain, kenaikan pungutan ekspor disebut telah menekan harga TBS hingga Rp833 per kilogram, yang berpotensi menimbulkan kerugian petani sawit nasional sekitar Rp499 miliar hingga Rp500 miliar setiap bulan.

Menanggapi hal tersebut, Eddy menjelaskan bahwa berkurangnya ekspor CPO akibat peningkatan penggunaan domestik justru dapat memperketat pasokan minyak nabati di pasar global.

“Kalau implementasi B50 menyebabkan ekspor berkurang, yang terjadi justru kenaikan harga minyak nabati dunia termasuk minyak sawit apabila suplai minyak nabati lain stagnan atau berkurang. Ini justru akan meningkatkan harga CPO dalam negeri, ujung-ujungnya harga TBS petani juga akan naik,” ujar Eddy.

Menurutnya, ketika pasokan minyak sawit di pasar internasional berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga minyak nabati global berpotensi meningkat. Kondisi ini dapat memberikan sentimen positif terhadap harga CPO Indonesia dan pada akhirnya meningkatkan harga TBS yang diterima petani.

Pengurangan Ekspor Bisa Angkat Harga Sawit Global

Implementasi B50 diperkirakan akan mengalihkan sekitar 13 juta hingga 20 juta ton CPO dari pasar ekspor ke pasar domestik untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Dari perspektif pasar, pengalihan volume tersebut berpotensi mengurangi ketersediaan minyak sawit di pasar global. Jika produksi minyak nabati pesaing seperti kedelai, bunga matahari, maupun rapeseed tidak mengalami peningkatan signifikan, maka harga minyak sawit dunia berpotensi menguat.

Kenaikan harga global tersebut dapat menjadi faktor penopang harga CPO domestik, sehingga berpeluang memberikan keuntungan bagi pelaku industri sawit maupun petani.

Pungutan Ekspor Menjadi Faktor Penentu

Meski optimistis terhadap prospek harga sawit, GAPKI mengingatkan bahwa kebijakan pungutan ekspor tetap menjadi faktor krusial.

Menurut Eddy, apabila penerimaan dana dari pungutan ekspor menurun akibat berkurangnya volume ekspor, lalu pemerintah kembali menaikkan tarif pungutan ekspor untuk membiayai program biodiesel, maka dampaknya justru dapat berbalik menekan harga CPO dalam negeri.

“Kalau kemudian pungutan ekspor berkurang lalu PE dinaikkan lagi, maka ini yang akan menekan harga CPO dalam negeri dan juga harga TBS petani,” tegasnya.

Karena itu, keberhasilan implementasi B50 dalam meningkatkan kesejahteraan petani sawit sangat bergantung pada arah kebijakan fiskal pemerintah, khususnya terkait pungutan ekspor dan pengelolaan Dana Sawit.

Risiko Defisit Dana Sawit Masih Menjadi Sorotan

SPKS sebelumnya memperkirakan implementasi B50 dapat mengurangi penerimaan Dana Sawit sekitar Rp43 triliun hingga Rp67 triliun per tahun akibat menurunnya volume ekspor.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan defisit pendanaan program biodiesel sebesar Rp28 triliun hingga Rp42 triliun per tahun apabila tidak diimbangi dengan sumber pendanaan baru.

Meski demikian, GAPKI menilai solusi atas tantangan tersebut tidak seharusnya dilakukan dengan terus menaikkan pungutan ekspor yang pada akhirnya dapat menurunkan harga CPO domestik dan merugikan petani.

Pasokan CPO Nasional Dinilai Masih Cukup untuk B50

Dari sisi ketersediaan bahan baku, GAPKI memastikan produksi CPO nasional saat ini masih mencukupi untuk mendukung pelaksanaan program B50.

Menurut perhitungan organisasi tersebut, tambahan kebutuhan CPO untuk implementasi B50 diperkirakan sekitar 1,74 juta ton dan masih dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

“Seharusnya tahun ini produksi cukup untuk mendukung B50, kebutuhan sekitar 1,74 juta ton,” ujar Eddy.

B50 Bisa Menjadi Momentum Positif bagi Industri Sawit

Secara keseluruhan, GAPKI menilai implementasi biodiesel B50 tidak otomatis menekan harga TBS petani. Sebaliknya, berkurangnya ekspor CPO berpotensi memperketat pasokan global dan mendorong kenaikan harga minyak sawit dunia.

Namun manfaat tersebut sangat bergantung pada kebijakan pemerintah terkait pungutan ekspor. Jika tarif pungutan ekspor tidak kembali dinaikkan, maka B50 berpeluang menjadi katalis positif yang dapat memperkuat harga CPO nasional sekaligus meningkatkan.

Sumber: gapki.id

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Exit mobile version