Benih Sawit Indonesia Berita Terkini Berita Terbaru Kolaborasi Lintas Sektor untuk Konservasi Orangutan di Lanskap Keraitan
Berita Terbaru

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Konservasi Orangutan di Lanskap Keraitan

BENIH SAWIT INDONESIA – Keberhasilan konservasi satwa liar saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh luas kawasan yang dilindungi, tetapi juga oleh kemampuan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga keterhubungan habitat di tengah lanskap yang terus berkembang. Prinsip inilah yang menjadi landasan berbagai upaya konservasi orangutan yang kini berkembang di Lanskap Keraitan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Lanskap Keraitan merupakan salah satu habitat penting bagi orangutan morio (Pongo pygmaeus morio), subspesies orangutan Kalimantan yang hidup berdampingan dengan berbagai aktivitas pemanfaatan lahan, termasuk perkebunan, kehutanan, dan pertambangan. Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan perubahan penggunaan lahan, tantangan konservasi juga semakin kompleks. Fragmentasi habitat berpotensi meningkatkan interaksi antara orangutan dan manusia, sekaligus memengaruhi konektivitas antar kantong habitat yang dibutuhkan satwa untuk mencari pakan, berkembang biak, dan mempertahankan populasinya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orangutan dapat bertahan hidup di habitat yang terfragmentasi selama masih tersedia sumber pakan, tempat berlindung, dan koridor yang memungkinkan pergerakan antar kawasan. Temuan tersebut memperkuat pentingnya pendekatan konservasi berbasis lanskap yang melibatkan seluruh pihak yang beraktivitas di dalam wilayah habitat orangutan.

Selama hampir dua dekade, berbagai penelitian, pemantauan, dan pengembangan strategi konservasi telah dilakukan bersama oleh pemerintah, akademisi, lembaga konservasi, dan pelaku usaha untuk memahami dinamika populasi orangutan serta merumuskan pendekatan pengelolaan yang dapat diterapkan pada berbagai fungsi lanskap. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam mendorong lahirnya berbagai inisiatif konservasi yang lebih terintegrasi dan adaptif.

Salah satu langkah penting yang lahir dari semangat kolaborasi tersebut adalah Program Konservasi Orangutan Terpadu (PKOT). PKOT di lanskap multifungsi telah dikembangkan Dr. Yaya Rayadin, pendiri dan peniliti Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (ECOSITROP), dan timnya sejak tahun 2006. Dalam perkembangan implementasinya, PKOT melibatkan multipihak yang beroperasi di lanskap multifungsi Keraitan, dan bertujuan untuk memperkuat upaya perlindungan orangutan yang terletak di lanskap Kutai tersebut.

Konservasi pada level lanskap inj sangat penting, maka dari itu Pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengambil inisiatif untuk memformalkan implementasi Program PKOT di tingkat tapak. Untuk itu  pada tahap awal dilakukan rapat koordinasi para pihak yang diselenggarakan oleh BKSDA Kalimantan Timur pada Agustus 2024 sebagai respons terhadap meningkatnya interaksi antara orangutan dan manusia di sejumlah area konsesi yang berada dalam lanskap tersebut. Pertemuan tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk BKSDA Kalimantan Timur, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, ECOSITROP, serta perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar Lanskap Keraitan. Dari forum tersebut lahir kesepahaman bahwa upaya konservasi tidak dapat dilakukan secara terpisah oleh masing-masing pihak, melainkan membutuhkan koordinasi dan sinergi yang kuat dalam satu kerangka pengelolaan lanskap yang terpadu.

Dalam pelaksanaannya, BKSDA Kalimantan Timur, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, dan ECOSITROP berperan sebagai pengarah kebijakan, pengawas teknis, sekaligus koordinator kegiatan konservasi. Dukungan juga datang dari berbagai sektor usaha yang beroperasi di wilayah tersebut, mulai dari pertambangan, hutan tanaman industri, hingga perkebunan kelapa sawit.

Sebagai bagian dari lanskap tersebut, PT Teladan Prima Agro Tbk turut berpartisipasi melalui dua anak usahanya, PT Telen dan PT Sawit Prima Nusantara. Bersama para pemangku kepentingan lainnya, Perseroan mendukung pengelolaan habitat, perlindungan koridor ekologis, penyediaan data lapangan, serta implementasi berbagai kegiatan konservasi yang bertujuan menjaga keberlangsungan populasi orangutan di Lanskap Keraitan.

Pendekatan kolaboratif ini mencerminkan pemahaman bersama bahwa orangutan tidak mengenal batas administrasi konsesi maupun sektor usaha. Karena itu, pengelolaan lanskap yang terkoordinasi menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan konservasi jangka panjang.

“Keberadaan orangutan di luar kawasan konservasi menunjukkan bahwa tanggung jawab perlindungan keanekaragaman hayati tidak hanya berada di tangan pemerintah atau lembaga konservasi. Perusahaan yang beroperasi di dalam lanskap juga memiliki peran penting dalam menjaga koridor habitat dan memastikan fungsi ekologis tetap terpelihara,” ujar Dr. Yaya Rayadin, yang juga merupakan Ketua Komite Keberlanjutan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan PT Teladan Prima Agro Tbk.

Komitmen Perseroan terhadap konservasi keanekaragaman hayati juga tercermin dalam tata kelola keberlanjutan yang mengedepankan pendekatan berbasis sains. Kehadiran Dr. Yaya Rayadin, akademisi dan pakar konservasi dari Universitas Mulawarman, dalam struktur tata kelola keberlanjutan Perseroan memperkuat integrasi aspek lingkungan dan biodiversitas dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan.

Bagi PT Teladan Prima Agro Tbk, perlindungan orangutan tidak hanya berkaitan dengan satu spesies semata. Orangutan merupakan spesies payung (umbrella species) yang keberadaannya mencerminkan kesehatan ekosistem hutan tropis secara keseluruhan. Dengan menjaga habitat orangutan, berbagai fungsi lingkungan lainnya seperti perlindungan keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, serta keberlanjutan fungsi hidrologis lanskap turut terpelihara.

Perkembangan upaya konservasi di Lanskap Keraitan menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan tidak harus berjalan berlawanan arah. Melalui kolaborasi yang kuat, pendekatan berbasis sains, dan komitmen bersama dari berbagai pemangku kepentingan, konservasi dapat menjadi bagian integral dari pengelolaan lanskap yang berkelanjutan.

“Lanskap Keraitan memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan dan konservasi tidak harus berjalan saling berlawanan. Dengan pendekatan berbasis sains dan kolaborasi yang kuat, kita dapat menciptakan lanskap yang produktif secara ekonomi sekaligus mampu mendukung kelestarian orangutan dan keanekaragaman hayati lainnya,” tutup Dr. Yaya Rayadin.

Ke depan, PT Teladan Prima Agro Tbk akan terus mendukung berbagai inisiatif yang mendorong pengelolaan lanskap secara terpadu dan berkelanjutan. Perseroan meyakini bahwa kolaborasi merupakan kunci dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan pelestarian lingkungan, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi alam, masyarakat, dan generasi mendatang.

Sumber: teladan.com

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Exit mobile version