Bogor, BENIH SAWIT INDONESIA – Limbah minyak jelantah yang selama ini kerap berakhir di saluran air atau dibuang di sekitar rumah, di tangan ibu-ibu PKK Desa Sirnaresmi, Bogor, Jawa Barat, diubah menjadi produk bernilai ekonomi. Minyak bekas menggoreng itu diolah menjadi lilin aromaterapi yang hasil penjualannya digunakan untuk membantu pengadaan penyaring air bagi desa yang menghadapi persoalan air bersih.
Program tersebut diinisiasi Sunda Galih, mantan penerima program beasiswa SCG Sharing the Dream pada 2023. Galih yang saat itu masih menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB), menggagas program pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan penyelesaian persoalan lingkungan dengan kebutuhan masyarakat.
“Tujuannya itu untuk Sirnaresmi yang lebih bersih. Karena memang banyak permasalahan, salah satunya limbah dan ketersediaan air bersih,” kata Galih saat ditemui dalam acara SCG Sharing the Dream, Selasa (11/8/2026) lalu.
Menurut Galih, pemilihan minyak jelantah sebagai bahan utama dilatarbelakangi persoalan pengelolaan limbah di lingkungan masyarakat. Minyak bekas tersebut sebelumnya tidak selalu dikelola dengan baik dan berpotensi mencemari lingkungan.
“Kalau tidak ke sungai, biasanya dibuang ke sekitar rumah. Jadi, tanah menjadi becek atau sungainya menjadi kotor,” ujarnya.
Melalui program yang diberi nama E-mission tersebut, minyak jelantah dikumpulkan dan diolah menjadi lilin aromaterapi. Produk yang dihasilkan kemudian dijual, sementara hasil penjualannya dialokasikan untuk pengadaan penyaring air di desa-desa yang terdampak persoalan air bersih.
Dengan demikian, program tersebut dirancang untuk menyasar dua persoalan sekaligus, yakni limbah minyak jelantah dan keterbatasan akses terhadap air bersih.
Galih mengatakan lilin aromaterapi dipilih karena proses pembuatannya relatif sederhana sehingga dapat diterapkan oleh masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat langsung dalam keseluruhan proses produksi. Mulai dari pengumpulan minyak jelantah, penyaringan, pembuatan lilin, hingga pemasaran dilakukan oleh ibu-ibu PKK.
“Karena memang kami ibu-ibu PKK. Jadi, kita mencari cara yang sekiranya bisa diimplementasikan secara langsung oleh ibu-ibu,” kata Galih.
Proses pengolahan dimulai dengan sosialisasi kepada masyarakat mengenai program dan bagaimana minyak jelantah akan dimanfaatkan. Minyak yang terkumpul kemudian disaring untuk memisahkan endapan maupun sisa bahan dari proses penggorengan.
Galih mengatakan tidak ada spesifikasi khusus mengenai kualitas minyak jelantah yang dapat dikumpulkan. Minyak yang masih relatif jernih maupun yang sudah sangat kotor tetap dapat dimanfaatkan. Perbedaannya terdapat pada proses persiapan dan penyaringan.
“Semisal limbah minyak jelantah yang jernih atau yang kotor banget masih bisa kita terima. Cuma nanti kita beda preparasinya di penyaringannya,” ujarnya.
Setelah melalui proses penyaringan, minyak tersebut diolah dan dicampurkan dengan sejumlah bahan pembuatan lilin. Produk kemudian dibuat dalam berbagai varian lilin aromaterapi untuk dipasarkan. Seluruh proses tersebut berlangsung di aula Desa Sirnaresmi. Tempat itu dipilih karena selama ini menjadi lokasi berbagai kegiatan ibu-ibu PKK.
Kegiatan program dilaksanakan secara rutin setiap pekan. Mulai dari sosialisasi, proses produksi, hingga penjualan produk dilakukan di lokasi tersebut. Program yang dimulai pada 2023 itu masih berjalan hingga sekarang. Setelah melalui proses pendampingan, program tersebut kemudian diserahkan kepada ibu-ibu PKK untuk dikelola dan dikembangkan sebagai salah satu kegiatan utama mereka.
“Program E-mission ini jadi sekarang sudah menjadi program utama yang diselenggarakan oleh PKK. Jadi, masih berlanjut sampai sekarang,” kata Galih.
Produk lilin aromaterapi kini dipasarkan melalui sejumlah saluran. Penjualan dilakukan berdasarkan pesanan atau pre-order serta melalui platform daring. Kelompok ibu-ibu PKK juga menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra. Keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan instansi pemerintahan turut membuka peluang pemesanan produk.
Menurut Galih, setiap bulan terdapat pemesanan yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Produk lilin aromaterapi itu juga telah masuk ke Gesari, program tanggung jawab sosial perusahaan dari PT Semen Jawa.
“Insya Allah ada platform untuk penjualan. Hal tersebut juga yang sampai saat ini membuat program ini bertahan,” ujarnya.
Galih mengatakan keberlanjutan program tidak terlepas dari dukungan SCG. Keterlibatan perusahaan tersebut tidak hanya dalam bentuk pendanaan, tetapi juga peningkatan kapasitas bagi pelaksana program.
SCG memberikan dukungan dalam bentuk pemahaman mengenai pemasaran serta cara membangun pendekatan dengan masyarakat. Dukungan tersebut dinilai membantu pelaksana program agar lebih siap ketika menjalankan kegiatan di tengah masyarakat.
“Kita membutuhkan, misalnya, pemahaman tentang marketing, pemahaman tentang bagaimana melakukan pendekatan di kalangan masyarakat. SCG memberikan fasilitas tersebut juga supaya kita lebih siap menghadapi masyarakat dan menjalankan dengan maksimal,” kata Galih.
Selain dukungan dari SCG, program tersebut juga mendapatkan pendampingan mentor dari IPB. Bagi Galih, keberlanjutan program menjadi salah satu hal penting setelah program tidak lagi sepenuhnya berada di bawah pengelola awal.
Penyerahan kepada ibu-ibu PKK membuat kegiatan tersebut dapat diteruskan sebagai bagian dari aktivitas masyarakat setempat. Program yang bermula dari pengelolaan limbah minyak jelantah itu pada akhirnya tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi. Hasil penjualannya juga diarahkan untuk menjawab persoalan lain yang dihadapi masyarakat, yakni kebutuhan terhadap air bersih.
Sumber: esgnow.republika.co.id

