Benih Sawit Indonesia Berita Terkini Berita Terbaru Pekebun Sawit Saat El Nino Tetap Bisa Memacu Produktivitas Tanaman Dengan Teknik Budi Daya yang Tepat
Berita Terbaru

Pekebun Sawit Saat El Nino Tetap Bisa Memacu Produktivitas Tanaman Dengan Teknik Budi Daya yang Tepat

Jakarta, BENIH SAWIT INDONESIA – Kegiatan budi daya pertanian, termasuk perkebunan sawit, menghadapi sejumlah tantangan, antara lain El Nino. Akan tetapi, pekebun sawit saat El Nino sejatinya tetap bisa memacu produktivitas tanaman asal menguasai teknik budi daya yang tepat. Dengan berbekal strategi konservasi air dan pemupukan sesuai cuaca misalnya, produktivitas dan pendapatan pekebun sawit dapat terus terjaga meski ada El Nino.

Menurut Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Sri Gunawan, tantangan perubahan iklim, khususnya fenomena cuaca El Nino, membuat pekebun harus mengubah pola pengelolaan kebun. Tujuannya tentu agar produksi dan produktivitas sawit tidak mengalami penurunan signifikan.

Karena itu, pekebun sawit di Tanah Air perlu juga dibekali strategi konservasi air, pemanfaatan bahan organik, hingga teknik pemupukan yang sesuai kondisi cuaca. “Peningkatan produktivitas kebun sawit tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada kemampuan pekebun menerapkan teknik budi daya yang tepat, termasuk dalam menghadapi tantangan El Nino,” ungkap dia.

Sri Gunawan menjelaskan, pemupukan tidak boleh dilakukan saat curah hujan terlalu rendah maupun ketika hujan turun terus-menerus karena dapat menyebabkan pupuk menguap atau hanyut sehingga tidak optimal diserap tanaman. Kesehatan tanah juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.

Dia juga mengingatkan pentingnya pengendalian hama penyakit sejak dini. Pekebun perlu lebih rutin memantau kondisi kebun agar serangan ulat api maupun ulat kantong dapat diketahui lebih awal sebelum menyebabkan kehilangan produksi. “Jangan hanya datang ke kebun saat panen. Pengamatan rutin oleh pekebun sangat penting agar serangan hama bisa segera dikendalikan sehingga produktivitas sawit tetap stabil,” jelas dia.

Atas dasar itulah maka AKPY, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), baru-baru ini, menggelar dan membekali pelatihan bagi 150 pekebun sawit asal Kabupaten Wajo untuk menguasai budi daya yang tepat demi meningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka.

Materi yang diberikan dirancang agar langsung dapat diterapkan di kebun peserta. Materi pelatihan mulai dari persiapan lahan, penggunaan bibit bersertifikat, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), hingga perawatan tanaman menghasilkan menjadi bagian penting dalam pelatihan, termasuk dalam menghadapi El Nino.

Melalui Pelatihan Teknis Budi Daya Kelapa Sawit Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026, sebanyak 150 pekebun asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel), dibekali keterampilan praktis mulai dari penggunaan bibit unggul, pemupukan yang tepat, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga strategi menghadapi dampak perubahan iklim.

Pelatihan yang didukung BPDP bersama Ditjen Perkebunan Kementan dan diselenggarakan AKPY tersebut, kata Sri Gunawan, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun sekaligus memperbaiki pendapatan pekebun melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Melalui penguasaan teknik budi daya yang benar, mulai dari pemupukan berimbang, penggunaan bibit unggul, pengendalian OPT, hingga pengelolaan tanah dan air, pelatihan tersebut diharapkan mampu membantu pekebun Wajo meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan sekaligus memperkuat kesejahteraan keluarga pekebun.

“Kesempatan pelatihan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Harapan kami setelah kembali ke kebun, peserta dapat menerapkan seluruh materi yang diperoleh sehingga produktivitas tetap terjaga bahkan meningkat,” ujar Sri Gunawan dalam keterangan yang dikutip Sabtu (18/07/2026).

Kualitas TBS Membaik

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulsel Nurul Fitriany Alimuddin mengatakan, pelatihan bagi petani/pekebun sawit itu menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia perkebunan.

Selama lima tahun terakhir, BPDP telah memfasilitasi pelatihan bagi 1.681 pekebun, keluarga pekebun, dan tenaga teknis perkebunan di Sulsel. Khusus Kabupaten Wajo, 459 pekebun ditargetkan mengikuti pelatihan sepanjang 2025-2026. “Kami berharap materi yang diperoleh saat pelatihan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan di kebun masing-masing sehingga produksi sawit masyarakat dapat meningkat,” tandas dia.

Menurut Nurul, peningkatan kapasitas pekebun sawit harus diikuti penerapan teknologi budi daya di lapangan, terutama penggunaan bibit unggul bersertifikat. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan rendemen dan kualitas tandan buah segar (TBS) sawit, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga jual yang diterima petani.

Sedangkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo Andi Pamereni menambahkan, pelatihan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing perkebunan sawit rakyat di tengah tantangan perubahan iklim dan tuntutan peningkatan produktivitas.

Pemkab Wajo juga meminta seluruh peserta pelatihan menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing serta membagikan pengetahuan tersebut ke pekebun lain agar manfaat pelatihan dapat dirasakan lebih luas.

Kabupaten Wajo kini memiliki potensi pengembangan sawit yang masih besar sehingga peningkatan kompetensi pekebun menjadi kebutuhan utama. “Saya berharap pelatihan ini tidak hanya jadi kegiatan seremonial, tetapi mampu menghasilkan pekebun yang kompeten, menerapkan praktik budi daya yang baik, meningkatkan produktivitas, menjaga kelestarian lingkungan, dan menghasilkan usaha perkebunan yang berdaya saing,” kata dia.

Sumber: investor.id

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Exit mobile version