• Senin, 5 Oktober 2026

Kurangi Impor SBM, Kementan dan BRIN Kaji Peningkatan Bahan Sawit dalam Pakan Ayam hingga di Atas 10%

JAKARTA, BENIH SAWIT INDONESIA - Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi tengah mengakselerasi riset pemanfaatan bahan berbasis kelapa sawit sebagai substitusi bahan baku impor pakan unggas, khususnya bungkil kedelai (soybean meal/SBM). Langkah hilirisasi ini diambil guna menekan ketergantungan impor sekaligus menstabilkan biaya produksi peternak nasional.

Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun, menjelaskan bahwa peluang penghematan devisa impor akan terbuka lebar apabila porsi penggunaan turunan sawit dalam formulasi pakan ayam mampu ditingkatkan melampaui angka 10%.

“Kalau bisa di atas 10%, ini riset-riset sedang dilakukan oleh teman-teman di BRIN dan perguruan tinggi. Kalau ini bisa di atas 10% maka akan menurunkan impor SBM kita, bisa disubstitusi dari CPO ini. Mudah-mudahan ke depan risetnya makin cepat,” ujar Makmun dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026, Senin (5/10/2026).

Poin-poin utama formulasi pakan, tantangan teknis pencernaan unggas, serta dinamika harga ayam dan telur nasional meliputi:

  • Tantangan Teknis & Karakteristik Lahan: Saat ini porsi turunan sawit dalam pakan baru sekitar 5% (terdiri dari bungkil inti sawit/PKM dan CPO/fat). Penggunaan cangkang atau tempurung sawit masih terbatas karena teksturnya yang keras berpotensi merusak saluran pencernaan unggas jika tidak melalui proses pengolahan enzimatis/teknologi pakan yang tepat.

Komposisi Bahan Baku Pakan Saat Ini:

  • Pakan Broiler (Ayam Pedaging): Bahan lokal mendominasi 60,0% (jagung 45%, dedak/bahan lokal 5%, PKM 5%, CPO/fat 5%). Sementara 40,0% masih diimpor (SBM 25%, DDGS 5%, MBM 3%, CGM 3%, PBPM/HCFM 2%, mineral/additif 2%).

  • Pakan Layer (Ayam Petelur): Bahan lokal mencapai 63,0% (jagung 45%, dedak/bahan lokal 8%, PKM 5%, CPO/fat 5%). Impor menyumbang 37,0% (SBM 20%, DDGS 7%, MBM 3%, CGM 3%, PBPM/HCFM 2%, mineral/additif 2%).

Dinamika Harga Ayam Pedaging (Awal Oktober 2026):

  • Jawa Barat: Harga produsen Rp22.500/kg; harga konsumen Rp39.858/kg.

  • Jawa Tengah: Harga produsen Rp22.000/kg; harga konsumen Rp40.056/kg.

  • Jawa Timur: Harga produsen Rp23.000/kg; harga konsumen Rp39.388/kg.
  • (Sebagai pembanding, Harga Acuan Pembelian/Penjualan (HAP) Perbadan No. 6/2024 menetapkan HAP produsen Rp26.500/kg dan HAP konsumen Rp39.000/kg).

Solusi Disparitas Indonesia Timur & Tren Telur: Mengatasi ketimpangan pasokan di Indonesia Timur, BUMN PT Berdikari tengah membangun fasilitas perunggasan terintegrasi yang ditargetkan beroperasi pada Juli 2027. Sementara itu, harga telur ayam ras tercatat masih melandai di bawah HAP, yakni Rp22.927/kg di tingkat produsen dan Rp26.000/kg di tingkat konsumen.

Sinergi antara riset pakan berbasis biomassa sawit dan pembenahan rantai pasok terintegrasi diharapkan dapat memangkas struktur biaya pakan peternak yang selama ini menyerap hingga 70% biaya produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Sumber: ekonomi.bisnis.com