Benih Sawit Indonesia Berita Terkini Berita Benih PTPN IV Regional II Klaim Benih Sawit Bisa Berbuah dalam 24 Bulan
Berita Benih

PTPN IV Regional II Klaim Benih Sawit Bisa Berbuah dalam 24 Bulan

PTPN IV Regional II melalui Unit Bisnis Balai Benih Kelapa Sawit terus memperkuat posisinya sebagai produsen benih unggul nasional di tengah meningkatnya kebutuhan replanting dan peningkatan produktivitas sawit nasional. Sejak berdiri pada 2016, unit usaha ini telah memasarkan lebih dari 10 juta benih kelapa sawit ke berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Sulawesi.

BENIH SAWIT INDONESIA – Manager Produksi Balai Benih Kelapa Sawit PTPN IV Regional II Mahmud Irfan Lubis mengatakan pihaknya menjalankan usaha perbenihan melalui skema kerja sama operasi (KSO) dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) atau Riset Perkebunan Nusantara (RPN).

“Balai benih ini merupakan salah satu unit bisnis PTPN IV Regional II yang bergerak di bahan tanaman unggu kelapa sawit, khususnya benih dan bibit kelapa sawit. Kami bekerja sama dengan PPKS/RPN membentuk kerja sama operasi sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen Perkebunan,” ujarnya.

Mahmud menjelaskan, kerja sama tersebut dipilih sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi pemerintah terkait pengembangan industri perbenihan sawit nasional. Melalui kolaborasi tersebut, Balai Benih PTPN IV Regional II memasarkan varietas unggulan PPKS 540 dan sejumlah varietas lainnya seperti Simalungun, Avros, serta Yangambi.

“Seluruh varietas itu sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia. Kami sudah memiliki izin usaha produksi benih sehingga benih dapat diedarkan secara nasional sejak awal berdiri,” katanya.

Menurut Mahmud, seluruh benih sawit yang dilepas ke pasar pada dasarnya merupakan benih unggul. Namun, masing-masing varietas memiliki karakteristik tersendiri, mulai dari percepatan masa panen hingga potensi produksi minyak.

“Kalau praktik tata Kelola penanamannya baik, tanaman bisa mulai berbuah pada usia 24 sampai 26 bulan. Kandungan minyaknya juga tinggi dan berat tandannya besar. Ada yang mencapai 53 kilogram pada usia tanaman 10 tahun,” ujarnya.

Selain produktivitas, perusahaan juga menaruh perhatian besar terhadap kualitas genetik benih. Mahmud mengatakan pihaknya menjaga tingkat kontaminasi dura di bawah 2 persen sesuai dengan SNI Benih 8211:2023 melalui pengawasan rutin dan quality control setiap semester.

“Kami mengawasi langsung proses polinasi di lapangan, memastikan tidak ada persilangan yang tidak jelas atau kontaminasi. Pengawasannya juga dilakukan Balai Besar Perbenihan Medan sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian yang melaksanakan fungi pengawasan,” katanya.

Di sisi lain, Mahmud menilai peredaran benih palsu masih menjadi tantangan besar dalam industri sawit nasional. Menurut dia, persoalan tersebut dipicu banyak faktor, termasuk keterbatasan produsen benih bersertifikat resmi pada masa lalu yang membuka celah bagi oknum untuk memasarkan benih ilegal.

“Dulu produsen benih masih sangat terbatas, hanya tiga sampai lima perusahaan. Karena benih sulit didapat, ada oknum yang memanfaatkan situasi dengan memasukkan benih palsu. Petani juga banyak yang belum memahami,” ujarnya.

Namun, kondisi tersebut mulai membaik seiring Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan edukasi yang dilakukan BPDP kepada petani. Meski demikian, Mahmud menilai pengawasan tetap perlu diperkuat karena proses produksi benih membutuhkan waktu hingga sembilan bulan.

“Perlu program yang terencana dan kerja sama komprehensif antara petani, produsen benih, balai karantina, hingga penegakan hukum agar benih palsu tidak terus beredar,” katanya.

Untuk menjaga kepuasan pelanggan, Balai Benih PTPN IV Regional II juga menyediakan layanan purnajual, terutama bagi pembelian dalam jumlah besar. Perusahaan akan melakukan kunjungan lapangan untuk memantau performa tanaman dan menindaklanjuti berbagai keluhan dari pelanggan.

“Kalau ada masalah kami akan turun langsung. Bisa jadi masalahnya dari benih, bisa juga dari cara tanamnya. Kami rutin melakukan survei untuk mengetahui apa yang perlu ditingkatkan,” ujar Mahmud.

Saat ini, kapasitas produksi Balai Benih PTPN IV Regional II mencapai lebih dari 2 juta benih per tahun. Ke depan, perusahaan bersama PPKS juga tengah mengembangkan varietas baru, termasuk benih yang lebih tahan terhadap serangan Ganoderma, salah satu penyakit utama tanaman sawit.

Selain itu, perusahaan dipastikan akan ambil bagian dalam SIEXPO 2026 yang digelar di Pekanbaru pada 6-8 Agustus 2026. Mahmud mengatakan pihaknya akan menghadirkan berbagai program promosi bagi pengunjung.“Nanti akan ada program khusus di @ptpnivbenih, termasuk pembelian tanpa ongkir dengan kuota terbatas,” katanya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Exit mobile version