IUCN Peringatkan Bahaya Beralih dari Sawit: Kebutuhan Lahan Pembatas Bisa Membengkak 9 Kali Lipat
Topang 93,7% Ekspor Pertanian RI, Mentan Amran Genjot Hilirisasi Sawit hingga Swasembada Tebu
JAKARTA, BENIH SAWIT INDONESIA - Memasuki dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, subsektor perkebunan kian memperkokoh posisinya sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Hingga Agustus 2026, nilai ekspor komoditas perkebunan berhasil menembus Rp503,3 triliun, atau menyumbang sebesar 93,78 persen dari total ekspor pertanian nasional yang mencapai Rp536,7 triliun.
Berdasarkan data kinerja Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementan per Oktober 2026, nilai ekspor perkebunan mengalami pertumbuhan sebesar 11,15 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), sementara laju impor berhasil ditekan turun sebesar 0,49 persen.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa capaian ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat kemandirian ekonomi melalui peningkatan produksi, percepatan hilirisasi, serta pemenuhan bahan baku industri dalam negeri.
“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, pertanian termasuk perkebunan harus berkontribusi nyata melalui peningkatan produksi, pengembangan hilirisasi, dan peningkatan kesejahteraan pekebun agar kita semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan serta bahan baku industri,” ujar Mentan Amran dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
Poin-poin utama kontribusi komoditas unggulan, pertumbuhan PDB, agenda swasembada gula, hingga kesejahteraan jutaan pekebun meliputi:
- Sawit Kontributor Utama Ekspor Perkebunan:
- Kelapa Sawit: Rp355,3 triliun (penyumbang terbesar).
- Karet: Rp35 triliun.
- Kelapa: Rp29,4 triliun.
- Kakao: Rp26 triliun.
- Kopi: Rp21,5 triliun.
- Pertumbuhan PDB Subsektor Perkebunan: Produk Domestik Bruto (PDB) perkebunan atas dasar harga berlaku mencapai Rp546,3 triliun pada Triwulan II 2026, tumbuh sebesar 19,34 persen secara kuartalan (q-to-q) dan 3,34 persen secara tahunan (y-on-y).
- Swasembada Gula & Hilirisasi Komoditas Strategis: Kementan menggenjot pengembangan areal tebu, penyediaan benih unggul, dan perbaikan budidaya untuk menghentikan ketergantungan gula impor. Komoditas lain seperti kelapa, kopi, kakao, lada, pala, dan jambu mete terus didorong ke rantai industri olahan bernilai tambah tinggi.
- Peningkatan Kesejahteraan 18 Juta KK Pekebun:
- Dampak positif penguatan sektor ini dirasakan langsung oleh 18 juta kepala keluarga (KK) pekebun yang mengelola 29 juta hektare lahan di seluruh Indonesia.
- Nilai Tukar Petani (NTP) Perkebunan pada September 2026 melonjak 7,45 persen (YoY), dengan Provinsi Bengkulu mencatatkan indeks NTP tertinggi secara nasional sebesar 231,6.
- Strategi Tumpang Sari dan Perbaikan Hulu: Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, menambahkan bahwa fokus pembenahan di tingkat hulu dilakukan melalui penggunaan benih unggul, perbaikan kualitas hasil panen, serta optimalisasi lahan melalui pola tumpang sari (intercropping) bersama tanaman pangan guna menjamin pasokan bahan baku industri sekaligus menambah pendapatan pekebun.
Melalui keberlanjutan strategi hulu-hilir ini, Kementerian Pertanian optimistis subsektor perkebunan tidak hanya menjadi penyumbang devisa negara, melainkan juga episentrum kedaulatan pangan dan peningkatan kesejahteraan rakyat secara luas.
Sumber: pertanian.go.id


